Menyoal (Asu)ransi

-Berhentilah menginvestasikan uang brengsek Anda dalam bisnis kotor yang membunuh orang-orang.

Sekitar dua tahun yang lalu, setelah Ayah saya meninggal dunia, sebagai anak laki-laki sudah semestinya saya  menyelesaikan urusan-urusan almarhum yang tertinggal di dunia. Salah satunya adalah soal Asuransi jiwa. Kala itu baru pertama kali saya  mengurusi asuransi. Sejak saat itu saya berjumpa dengan istilah maupun kondisi yang baru, seperti Polis, Premi, Klaim dan sebuah fakta: begitu rumitnya dunia asuransi.

Ayah saya (semoga damai ia di sana) adalah pensiunan karyawan swasta. Ia berkeluarga sebagaimana banyak orang, punya istri dan tiga orang anak. Bekerja tentu bagi sebagian banyak orang adalah tuntutan untuk merawat keluarga. Demikian dengan ayah saya. Siang malam ia habiskan waktu agar nasi di rumah bisa tetap dihidangkan, anak-anak tetap bisa pergi ke sekolah. Tapi tak selamanya demikian, umur manusia terbatas,  namun gerak kehidupan tidak.  Seiring anak yang terus tumbuh dewasa ada orang tua yang menjadi semakin tua kemudian renta, lupa lalu tiada.

Melihat proses itulah kemudian peluang tercipta. Ketika orang tua tiada, dibutuhkan jaminan untuk keberlangsungan hidup anak-anak yang ditinggalkan. Maka berlakulah konsep asuransi, otoritas penjamin hal-hal yang demikian. Ia tak hanya berlaku untuk jiwa, tapi apapun, termasuk kesehatan. Bahkan bokong pun bisa, seperti yang dilakukan Jennifer Lopez  kepada segumpal bokong aduhainya. Intinya, apapun yang hari ini melekat pada diri anda bisa anda asuransikan. Anda diminta membayar dana premi secara berkala untuk kejadian yang barangkali tidak bisa anda atasi secara  finansial kelak di kemudian hari.

Perusahaan asuransi dengan sepenuh hati (di awal) melayani anda. Begitu mudah rasanya ketika anda pertama kali menjadi nasabahnya, tapi tidak ketika anda hendak mengambil uang yang telah anda berikan, di kemudian hari.

Sonia Bonet adalah salah satunya. Perempuan paru baya dengan satu orang anak ini harus marah dan berdarah untuk memperjuangkan klaim asuransi kesehatan milik suaminya. Asuransi Altasalud berkelit mencairkan klaim untuk biaya pengobatan Memo bonet yang terserang kanker ganas dan harus dioperasi dengan biaya yang mahal. Beban biaya yang harus dibayar tak sanggup ditanggung keluarga, maka asuransi menjadi harapan terakhir. Namun yang ada hanya penolakan-penolakan yang diterima Sonia. Mulai dari dokter yang membuat analisis penyakit, hingga komisioner dari asuransi yang membuat rekomendasi, menolak memberi peluang pada proses pencairan.

Sebenarnya ini bukan kejadian nyata. Sonia bonet adalah karakter fiksi dari novel ‘Monster kepala seribu’ atau dalam bahasa Uruguay berjudul ‘Un Monstruo De Mil Cabezas’ karya Laura Santullo penulis asal Uruguay. Buku yang diterbitkn dalam terjemahan bahasa Indonesia oleh penerbit ‘Marjin Kiri’ ini baru saya selesaikan beberapa hari yang lalu. setelah habis membacanya saya menemukan pengalaman yang kurang lebih  sama dengan yang dirasakan si tokoh utama –meskipun tidak semuanya sama.

Dalam novel itu, sonia bonet dihadapakan pada otoritas tanpa cela. Kenyataan jika sang suami mengahadapi situasi yang kritis tidak menjadikan pihak asuransi dengan mudah mencairkan dana premi. Jumlah yang ditanggung terlalu besar. Perusahaan bisa rugi dan tak mau ambil resiko. Dalam hal ini Sonet terjebak, menyadarai jika tak ada lagi yang bisa dilakukan. Maka, seekor binatang buas yang disudutkan tidak akan merintih, dia menggigit.

Tak ada cara lain selain mengancam. Berbekal sepucuk senjata milik suaminya, ia mulai memburu para pihak yang terlibat pada pengambil keputusan di perusahaan Asuransi Altalsalud. Ancaman demi ancama telah ia lakukan ke beberapa orang. Hingga yang terakhir, kepada Nyonya Lorena.

Novel ini dibangun atas plot cerita yang menarik. Sudut pandang yang diambil penulis seperti mengajak anda untuk terlibat dalam sebah penyeledikan. Anda seolah menyaksikan secara langsung para saksi berbicara tentang kronologi tiap kronologi melalui petugas sauna, si pramusaji hingga seorang polisi yang melumpuhan aski Sonia. Tak hanya itu, dari sudut pandang itu pembaca secara langsung diajak memahami kasus secara mendalam dengan tidak hanya menggunakan pertimbangan empiris namun juga menggunakan empati. Dengan demikian, kita ditunjukan jika yang terjadi dalam kasus Sonia tidak sekedar ia yang telah mengancam membunuh banyak orang sehingga menyeretnya pada urusan kriminal tapi ada hal-hal lain yang mempengaruhi sehiinga muncul tindakan itu. Ini seperti sindiran keras dari penulis kepada orang-orang yang hanya melihat suatu kasus secara hitam-putih, benar-salah, se-oposisi biner itu. Padahal, selalu ada unsur-unsur kecil yang kadang luput untuk kita pertimbangkan. Demi keinginan menyelesaikan masalah kita sering menyederhanakan simpul-simpul yang kecil namun sebenarnya sangat penting.

Bagi saya, novel ini terasa begitu dekat. Di sisi lain, melalui ceritanya, penulis seolah ingin menelanjangi bagaimana praktek kerja dan bisnis kotor dalam sirkulasi perusahaaan asuransi kesehatan dijalankan. Wajah kapitalisme sebagaimana kita tahu memang demikian, melahirkan perusahaan-perusahaan yang gila atas orientasi profit lalu seringkali melupakan hak-hak yang dimiliki para konsumen. Hantu-hantu kapitalisme ini tentu saja akan terus mengejar anda, di segala aspek kehidupan anda, tak terkecuali dengan masa depan –sesuatu yang belum tentu terjadi pada diri anda.

Tapi sepertinya, hanya dengan membaca buku ini tidak akan merubah pilihan kita untuk terus mengkonsumsi jasa asuransi, bukan? Lagian, hari gini, siapa sih yang gak pakai dan butuh asuransi.

Advertisements

Farenheit 451

 

“There are worse crimes than burning books. One of them is not reading them.”
 (Ray Bradbury)

Apa sebab dan bagaimana sebuah peradaban dihancurkan? Sederhana saja, bakar buku dan cegah seseorang untuk terus membaca. Itu adalah cara sekaligus hal yang dilawan oleh beberapa karakter yang ada di dalam novel Fahrenheit 451 karangan  penulis Amerika, Ray Bradbury.

Para pemadam kebakaran yang biasa kita tahu sebagai petugas pemadam api, dalam novel ini memiliki laku yang berkebalikan. Mereka adalah sekelompok orang yang dengan bangga dan senang hati membakar tiap rumah yang ketahuan menyimpan buku-buku di dalamnya. Hasrat yang mengerikan ketika melihat tumpukan kertas satu persatu terlalap oleh api dan menjadi abu, seperti kalimat pertama dalam novel ini; ‘Membakar adalah sebuah kesenangan’.

Guy Montag, tokoh utama yang berperan sebagai salah satu petugas pemadam kebakaran mulai resah dengan pekerjaan yang ia lakukan. Keresahanya muncul ketika Clairese seorang remaja putri yang muncul tiba-tiba dalam hidupnya. Clarisse bertanya tetang hal yang remeh temeh dalam kehidupan Montag. Clarisse menjelma sebagai tokoh dengan karakter yang polos, dia sering membandingkan segala  yang terjadi dengan masa lalu, kejadian yang sering diceritakan oleh pamanya. Dalam dunia orang dewasa yang penuh muslihat, pertanyaan-pertanyaan naif adalah hal yang menakutan.

Pertemuanya dengan Clarisse dan peristiwa terbakarnya perempuan tua bersama buku-buku miliknya menjadi  sebuah peristiwa yang begitu mempengaruhi Montag. Hingga akhirnya titik balik terjadi, perubahan pandangan Montag  inilah yang membawa ia melakukan serentetan tindakan ‘perlawanan’. Dari simpul-simpul itu agaknya Bradbury membangun alur cerita untuk novel ini.

Fahrenheit 451 adalah sebuah kritik tajam di setiap zaman, tentang  rasa malas bahkan phobia yang dialami suatu masyarakat terhadap buku. Buku-buku bukan hanya dianggap sebagai sumber masalah tapi juga simbol dari kesia-sian. Masyarakat lebih banyak meluangkan waktunya untuk ada di depan TV, mereka berbicara dengan orang-orang dalam TV dan menjadikanya satu-satunya hal yang dapat dipercaya. Bagi saya, novel ini begitu terasa sinis, sebuah penggambaran tentang masyarakat yang tak lagi menjadi manusia. Pasalnya,tak hanya merasa jijik pada buku dan ilmu pengetahuan, mereka juga digambarkan memiliki kehidupan yang asosial. Tak hanya itu, dalam masyarakat seperti itu –begitu terasa membosankan –dengan  pengetahun yang sedikit, obrolan itu-itu saja, pendek kata; Tak ada sesuatu yang baru dalam kehidupan.

Pemberangusan Buku

Novel ini disebut sebagai sebuah ramalan. Ramalan yang Lahir dari ruang  kosong di bawah tanah perpustakaan Universitas California, Los Angeles. Ray bradbury menyelesaikan 25.000 kata pertama dalam tempo semibilan hari. Nubuat atau bisa jadi ramalan yang dibuat Ray tentang sebuah masa depan dengan kondisi yang mengerikan apakah benar terjadi? Tentang pembakaran buku, penyensoran, pelarangan, hingga penutupan ruang-ruang pengetahuan.

Hal itu memang benar terjadi, namun  benarkah tindakan-tindakan seperti itu terjadi dengan pemisahan waktu; masa lalu, masa kini, masa depan. Jauh sebelum Bradbury menulis tentang pandanganya, aksi pembakaran terhadap buku sudah pernah terjadi. Pembakaran buku  di perpustakaan Iskandaria/Alexandria di wilayah Mesir yang konon berisi hingga 700.000 judul buku  pada abad ke -3 oleh kaum kristen puritan menjadi sebuah serangan hebat terhadap sejarah ilmu pengetahuan peradaban yang penyesalannya masih  bisa dirasakan hingga hari ini. Belum juga serangan pasukan Mongol terhadap perpustakaan Baghdad beberapa rentang tahun setelahnya. selain itu, pada kisaran tahun 1970 an, setelah  invasi Rusia terhadap Ceko, buku-buku milik Milan Kundera sastrawaan kenamaan Ceko juga pernah dicekal dan dilarang terbit.

Begitupun dengan Indonesia. Negara kita berdiri bukan tanpa sejarah pencekalan atau pembakaran buku. Kita tahu selama rezim otoriter Soeharto buku-buku beraliran kiri dan yang dianggap mengancam kemapanan kekuasaan diberangus dan dilarang untuk terbit. Kita mengenal nama Pramoedya Anantha Toer, beberapa karyanya dibakar oleh pihak militer dan ada sebagian yang hingga kini hilang karena tak dapat diselamatkan.

Lantas, setelah rezim otoriter runtuh dan digantikan oleh nuansa demokratis apakah menjamin tak ada lagi laku pembakaran dan pelarangan terhadap buku? Jawabanya adalah tidak. Beberapa waktu lalu contohnya, sebuah komunitas di kota Bandung yang bergiat dalam dunia literasi terpaksa harus bersitenggang dengan  pihak militer setempat. Mereka dipaksa untuk menghentikan aktivitasnya dalam menyalurkan buku-buku bacaan, tak hanya itu, buku-buku yang dianggap oleh pihak militer membahayakan dengan seenaknya diambil paksa untuk disita. Lebih suramnya lagi, beberpa pegiat buku harus rela dibubarkan paksa saat penyelenggaraan bedah buku atau diskusi oleh sekelompok ormas Islam yang melarang –sering atas nama agama. Pada titik inilah pendapat Bradbury jika bukan hanya pemerintah/rezim otoriter yang menjadi musuh dari hadirnya buku-buku, tapi terkadang orang-orang awam sendiri, lebih tepatnya mereka yang malas untuk membaca dan meninggalkan bacaan.

Jadi setidaknya menurut saya, kritik dari novel ini bukan sebuah ramalan. Bukan sesuatu yang hanya terjadi pada masa depan (hal yang ditulis pada kurun waktu 1950 sebagai ramalan atas masa depan, yang diakui oleh Ray). Namun, tindakan pemberangusan dan pembakaran buku adalah musuh abadi di sepanjang sejarah manusia, di setiap zaman peradaban. Ia melingkupi tindakan manusia yang dilakukan dulu, sekarang, dan masa depan. Ia kontekstual di setiap zaman.

Hal lain yang tampaknya menjadi sebuah kenyataan dan sebuah ramalan akurat adalah konsumsi terhadap Televisi. Ray Bardbury dalam novelnya juga menyinggung hal itu. Ketika masyarakat tidak percaya lagi dengan buku dan menghamba pada layar televisi. Satu-satunya informasi yang dianggap benar yang datangnya dari layar bergerak, bersuara. Bahkan dalama salah satu kutipan wawancaranya, Bradbury mengatakan,” Masalah utamanya adalah TV idiot. Jika anda menonton berita lokal, kepalammu akan berubah menjadi bubur.”  Dari pandanganya itu, saya sedikit banyak juga sepakat. Televisi tak ubahnya senjata mesin yang meborbardir otak kita dengan sesuatu yang itu-itu saja, berita yang itu-itu saja, diulang-ulang, dibolak-balik, belum lagi framing, berita yang dipotong, hal-hal itu meborbardir otakmu, mematikan pikiranmu.

Akhirnya kita tahu jika ada banyak alasan untuk tidak membaca buku, dan ada banyak hal yang menjadi ‘musuh’ atas hadirnya buku-buku. Namun, semua mahfum, jika tak ada peradaban yang dibangun tanpa tumpukan kertas, beribu tumpukan buku-buku dan perpustakaan. Semua pilihan ada dibalik batok kepal manusia itu sendiri. Ingin bijaksana dengan membaca atau penuh amarah pada buku dengan suhu kepala mencapai 451° Farenheit –yang tentu saja, bisa memecahkan isi kepala anda.

 

 

 

 

Benang Kusut Toleransi kita

Pada tahn 1763, sebuah catatan protes atas dakwaan dan hukuman mati untuk seorang laki-laki bernama Jean Calaste, diterbitkan. Dalam bahasa perancis, catatan itu berjudul Traite Sur la Tolerance atau dalam terjemahan Inggrisnya menjadi; A Treatise of Tolerance. Dalam salah satu bagianya, sang penulis berseloroh – dalam sebuah doa kepada Tuhan – “ Cintailah mereka yang memuja-Mu  di siang hari dengan cara menyalakan lilin, sama seperti Engkau mencintai mereka yang memuja-Mu dengan cara bersyukur atas teriknya sinar matahari.” Ia adalah Francois-Marie Aroute atau yang dapat dikenali sebagai Voltaire. Seorang pemikir dan sastrawan besar kenamaan Perancis, yang lewat karya monumentalnya”Candide” ia dikenal dunia hingga hari ini.

Hingga detik ini – yang sejujurnya tidak anda amati – urusan toleransi dalam masalah beragama bagi manusia tidak pernah menjadi urusan yang muda. Coba fikirkan, kita terpaut lebih dari dua abad kehidupan dengan waktu Traktat toleransi milik Voltaire itu terbit, tapi arogansi agama dalam kehidupan sosial kita, tidak benar-benar dapat untuk ditumbangkan. Barangkali Voltaire terus gusar dalam kuburnya, melihat orang-orang yang atas nama agama, membunuh,menjarah dan memporak-porandakan kehidupan mereka yang liyan.

Pada kenyataanya  Toleransi menjadi sebuah Frase yang terus dikutip, diotak-atik, bahkan digubah menjadi slogan sakral yang pada akhirya hanya menjadi keset peradaban ; sebuah alasan untuk mentralisir kekacauan. Anda akan benar-benar melihat itu semua ketika salah satu stasiun televesi menyiarkan jika telah terjadi penembakan yang dilakukan seorang Muslim kepada seorang kristen. Atau di dalam negeri anda mendapati sebuah masjid dibakar oleh para pengikut ajaran kristen , dan mungkin yang paling membuat terkejut lagi seorang muslim membakar sebuah masjid hanya karena masjid itu milik orang-orang yang berebeda aliran denganya. Baiklah ini adalah konsekuensi jika agama didudukan semacam lembaga, maka yang terjadi adalah dua hal; benar atau salah.

Tidak kah sebelum semua kejadian itu benar-benar terjadi, orang-orang dapat berujar tentang toleransi. Haruskah terlebih dahulu keacauan demi kekacauan, pembakaran, pelarangan atau bahkan nyawa yang hilang itu ada, baru kemudian toleransi muncul seolah menjadi mantra ajaib untuk membabat habis semua fakta dan meninabobokan ; mari saling menghormati dan bertoleransi dalam perbedaan, lupakan semua yang ada!.  Jika memang benar demikian, toleransi hanya akan  menjadi slogan pembebasan bagi kejahatan  yang dilakukan atas nama agama, secara sementara.

Seandainya Toleransi benar-benar hidup dan menjadi benang yang ikut memintal  kehidupan kita, maka itu semua tak perlu terjadi. Bisakah kita menaruhnya di awal cerita dari pada diakhir cerita dengan tambahan bumbu penyesalan  usang yang biasa kita saksikan.

Seandainya toleransi adalah sebuah benang, maka ia adalah benang yang telah kusut sebelum dipintal. Apa ia masih bisa dipintal ? tentu masih. Tapi benarkah sebuah kain akan terlihat indah dari benang yang sedari awal terlalu kusut untuk digunakan.

Barangkali saya hanya ngelantur membicarakan ini. Toh, di negara ini masih ada diantara manusia yang hidup damai dan harmonis dalam bingkai perbedaan. Barangkali saya saja yang cuman pesimis, Lha wong toleransi kita semua terbukti baik-baik saja kok. Tapi, tunggu. Benarkah kita dalam urusan toleransi sedang baik baik saja ? ah sudahlah barangkali anda dan saya tak benar ingin memikirkan terlalu jauh.

 


Catatan : sumber “Risalah Toleransi” karya Voltaire di dapat dari Esai dalam Fiksilotus.com yang di tulis oleh Maggie Tiojakin.

Catatan tentang Crime & Punishment – Fyodor Dostoyevsky

 

“Dostoyevsky adalah satu-satunya psikolog yang darinya aku belajar banyak hal”. 

-Friedrich Nietzsche

 

Sejak mengenal dunia sastra, lebih tepatnya empat tahun yang lalu, ada beberapa karya sastra kanon yang menjadi mitos bagi saya. Salah satunya, Crime & Punishment karya Fyodor Dostoyevsky, penulis masyhur kenamaan Rusia. Dalam beberapa obrolan para pegiat buku dan sastra yang saya jumpai dalam keseharian  maupun melalui dunia maya, novel ini sering disebut-sebut sebagai mahakarya , novel psikologis yang luar biasa, dan novel penuh pujian mentereng lainya. Tentu beberapa hal semacam itu yang terus memupuk rasa penasaran seorang pembaca sastra pemula seperti saya. Maka saya berusaha mencari, dan mendapati kenyataan, selama masa pencarian empat tahun itu saya gagal mendapatkanya. Karena itulah saya menyebut novel ini sebagai mitos; sesuatu yang sering dibicarakan tapi bentuk nyatanya tak pernah saya temui.

Awal bulan kemarin, setelah penantian panjang penuh kesabaran dan ketabahan, saya mengakhiri anggapan “mitos” terhadap novel ini. Akhirnya novel itu berhasil saya dapatkan. Saya memperolehnya dari salah satu kawan yang tinggal di Jogja, dia mengabarkan jika novel itu tak sulit didapatkan di sana, malahan tersebar di toko buku umum yang biasanya ada di setiap kota. Sayang, sebelumnya saya sudah mecari di semua toko buku kota ini dan hasilnya nihil. Maka tanpa banyak mikir, saya minta novel itu dikirim ke Malang.

Sejak saya menghabiskan novel ini tadi sore -sebelum menulis ini, saya sempat bingung, apa yang akan saya tuliskan tentang karya ini. Satu hal yang saya akui jika novel ini adalah novel terbaik sekaligus favorit dari sekian novel yang pernah saya baca.

 

 

Sebelum masuk pada cerita, ada pengantar bagus yang ditulis oleh Jacob Sumardjo tentang novel ini. Salah satu bagianya membahas tentang sejarah novel ini secara riwayat dari penulisnya maupun proses penerjemahanya ke bahasa Indonesia. Novel ini baru diterjamahkan dalam bahasa Inggris oleh Alice Ten , format terjemahanya adalah ringkasan dalam bentuk buku saku. Ada beberapa hal yang sengaja dihilangkan oleh Alice Ten, beberapa hal yang dihilangkan itu adalah fragmen cerita yang menurutnya diulang-ulang atau tidak efektif ditulis Dostoyevsky, yah namanya diringkas, yaa harus ada yang dihilangkan. Nah, Versi ringkasan yang berhasil ditekan menjadi 222 halaman inilah yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 2001.

Sebelumnya, proses penerjemahan kedalam bahasa Indonesia sudah pernah disarankan oleh H.B.Jassin pada tahun 1949, tapi anjuran itu ditolak oleh penerbit Balai pustaka dengan alasan akan sulit menerbitkan dan menjual karya sastra yang versi bahasa Inggrisnya saja setebal 542 halaman. Jadi begini, selain terjamahan dari Alice Ten sebenarnya novel ini sempat diterjamhkan oleh penerjemah berbeda dalam versi Inggris, yang satunya yaitu Sydney Monas dengan hasil total terjemahan menjadi setebal 542 halaman.

Akhrinya, novel ini benar-benar diterbitkan di Indonesia dan mulai beredar pertama kali pada tahun 2001 oleh Yayasan Obor Indonesia (YOI) dengan penerjemah Ahmad Faisal Tarigan. Cetakan pertama 2001, dan baru cetakan kedua di tahun 2016 ini keluar. Artinya, jarak antara penerbitan pertama dengan kedua memakan waktu 15 tahun. Entah apa yang menyebabkan novel sebagus ini diterbitan dengan rentan waktu yang cukup lama seperti itu.

Oke, saya memang rakus sekali ingin mengulas segala hal tentang novel ini. Karena karya yang bagus dari penulisan yang bagus selalu membuat pembaca nyaris meletup-letup kegirangan dalam menanggapinya

 

Novel ini bercerita tentang seorang anak muda bernama Raskolnikov (dalam sebutan lain; Rodya,Rodion) dengan kisah pembunuhan yang memiliki motif luar biasa gila. Raskolnikov adalah seorang mahasiswa miskin yang terpaksa keluar dari kampusnya karena masalah biaya. Kondisi hidup yang miskin, rasa terbebani dari ibu dan adiknya , mebuat Raskolnikov memiliki cara pandang yang aneh dalam melihat kehidupan. Babak kisah dimulai ketika ia memustuskan membunuh seorang rentenir bernama Alyona Ivanovna dan adik tirinya Lizaveta .

Novel ini semacam novel detektif, dengan sebuah kronik pembunuhan. Ya, pembunuhan. Tapi ini bukan sebuah cerita pembunuhan biasa. Motiv yang digunakan oleh raskolnikov dalam pembunuhanya menjadi salah satu simpul cerita yang memiliki pengaruh kuat dalam novel ini dan pergolakan batin yang dialami si tokoh utama. Motiv ini lahir dari (yang diceritakn ditengah kisah) penafsiran Raskolnikov tentang hubungan ‘orang besar’ di mata  hukum. Dalam artikel yang dibuat oleh Raskolnikov, ia menafsirkan jika untuk merubah sebuah keadaan maka dibutuhkan hadirnya ‘orang besar’ atau orang terpilih.  Orang yang terpilih ini dianggap boleh mengambil tindakan apapun untuk menciptakan perubahan, termasuk melakukan pembunuhan.  Dalam salah satu pernyataan Raskolnikov, ia mengungkapkan seandainya seorang Kepler dan Newton tidak bisa melakukan penemuan tanpa mengorbankan banyak orang, maka orang-orang seperti itu sah bahkan wajib mengambil langkah pengorbanan demi lahirnya sebuah penemuan yang bermanfaat untuk orang banyak. Dengan gambaran seperti itu, sederhanya, Raskolnikov menganggap dirinya sebagai orang besar yang harus melakukan perubahan untuk mereka yang miskin, tertindas, dan susah, dengan keharusan membunuh sang linta darat. Untuk membunuh orang biasa mengutuk keadaan, tapi seorang yang terpilih harus melakukan perubahan. Barangkali itu yang bisa menjelaskan isi pikiran Raskolnikov.

Setelah kejadian pembunuhan, Raskolnikov mengahadapi kenyataan jika ia tak bisa bebas dari bayang-bayang tindakanya. Konflik  batin tokoh utama menjadi pengaruh kuat selanjutnya dalam novel ini. Rasa sakit, igauan tak jelas disetiap tidur, mimpi buruk yang mengerikan, rasa yang terus dicurigai adalah produk dari rasa takut yang terus melekat dalam pikiran. Ia dihantui pada bayangan tindakan dan prinsip yang ia pegang sendiri. Antar rasa bersalah atau merasa benar. Antara pembelaan dan kebohongan untuk dirinya sendiri yang terus ia ciptkakan dalam pikiran.  Rasa takutnya mendorong kepada pilihan yang lebih sulit lagi baginya, antara menyerah, bunuh diri atau lari.

Dilain pihak terdapat karakter detektif polisi, Porfiry. Orang inilah yang pertama kali berhasil menangkap motif yang dimiliki oleh Raskolnikov, dari artikel yang pernah ia buat. Porfiry terus menjadi ‘musuh’ utama Raskolnikov dalam menyembunyikan tindakanya. Hingga akhirnya Raskolnikov menyerah. Ia mengakui perbuatanya dan menceritakanya. Bukan kepada sang polisi, tapi kepada Sonia. Seorang anak perempuan dari sahabatnya. Pengenalan kehidupan sang wanita dan pertemuannya yang sarat emosional, pada akhirnya menggiring Raskolnikov untuk percaya kapada Sonia, jika dia satu-satunya orang yang tepat untuk mendengar pengakuan tentang pembunuhan itu. Lebih tepatnya, karena ia jatuh cinta. Perempuan memang, kadang menjadi jalan terang kadang pula juga jalan nestapa dalam cerita hidup.

 

Novel ini Mengurai dan masuk lebih mendalam pada relung kehidupan manusia ia adalah, sebuah masterpiece yang dengan membacanya, kita tahu, kemiskinan, kmelaratan dan rasa sakit kehidupan akan berpengaruhi dan berdampak besar pada sebagian cara pandang, tindakan manusia yang menghasilkan kisah-kisah luar biasa. Melalui karya ini dan lainya, Dostoyevsky dianggap memberikan pengaruh pemikiran terhadap banyak tokoh pemikir setelahnya. Seperti Nietzsche ataupun Satre. Novel ini sangat direkomendasikan untuk anda miliki.

 

9,5/10

 

 

Dag Solstad tentang Aib dan Martabat

 

 

Ini adalah ulasan tentang novel yang paling brilian (menurut saya)  dari karya penulis kenamaan Norwegia, Dag Solstad. Bercerita tentang kehidupan tokoh utama  seorang guru Bahasa Norwegia, Elias Rukla, yang menghadapi suatu  kenyataan yang begitu mengerikan. Kesepian dan kegagapan di tengah-tengah masyarakat  modern.

Babak pertama yang menceritakan bagaimana sang guru begitu gelisah dan tak berdaya mendapati para murid di kelas akhir sekolah menegah yang begitu menunjukan ketidaktertarikanya pada karya sastra yang diwakili oleh naskah drama “itik liar” karya Henrik Ibsen.  Melalui penggambaran itu Solstad seolah ingin menyampaikan jika sang tokoh sedang  terjebak dalam dua dunia yang berbeda. Dilain sisi, Rukla adalah seorang yang selalu terobsesi atau bisa dibilang memiliki ketertarikan lebih terhadap  karya sastra, tapi di sisi lain, ia merasa putus asa mendapati jika masyarakat tak memiliki kepedulian lebih terhadap itu.

Persetan memang dengan orang lain, agakanya penilain itu yang diberikan Eka Kurniawan dalam website pribadinya ketika mengulas novel ini.  Memang demikian adanya, bagaimana mungkin kita memaksa orang lain atau siswa tingkat akhir di sekolah menengah untuk dapat tertarikk dengan sastra atau membayangkan mereka akan mengulas secara mendalam tentangnya.

Bagian berikutnya, menurut saya, adalah adegan yang begitu mencengangkan, sebuah ironi yang sebenarnya dapat tiba-tiba datang kepada kita. Saat sepulang dari mengajar dan akan kembali ke rumah, hujan turun rintik-rintik  membuat Rukla berteduh sejenak. Setelah itu, Rukla  coba membuka payung hitam yang ia bawa di dalam tas, ketika akan membuka, ia mendapati jika payung itu macet dan sulit sekali untuk terbuka, ia marah, membanting-banting payung itu di atas batu – berharap dapat segera terbuka. Kenyataanya, payung itu tak pernah terbuka, malahan dia mendapati kenyataanya jika semua kemarahan yang ia lakukan menjadi tontonan banyak siswa yang saat itu sedang jam istirahat. Itu adalah adegan memalukan yang luar biasa,kejatuhan martabat yang tak dinyana, sekaligus membuka cerita-cerita dibaliknya.

Dibagian lain juga ada tokoh Johan Corneliussen, sahabat Rukla sekaligus sosok bayangan yang sulit ia hindarkan. Dia adalah pria brilian dengan minat luar biasa dalam bidang filsafat, seorang penafsir kant dan marxist namun pada akhrirnya ia takluk juga dengan mimpi-mimpimya. Ada bagian yang paling menarik bagi saya  sejauh hubungan Rukla dan Johan, terkait pandangan Johan tentan Marxist sebagai Ideologi yang mampu menangkap problem masyarakat yang dimulai dengan obsesi terhadap Impian ! Ahh…. itu pandangan yang brilian menurutku, dengan gambaran masyarakat desa yang berdoyong-doyong ke kota hanya untuk memenuhi hasratnya agar dekat dengan impian! Ya impian! Meski harus harus lapar dan mlarat, asal hidp dekat dengan mobil mewah, cahaya gemerlapan dan lainya. Mimpi-mimpi itu menyajikan kepuasan dan mimpi-mimpi memuaskan dahaga.

Kehadiran tokoh perempuan, Eva menjadi simpul  cerita yang tak bisa dipisahkan. Tak banyak yang ingin aku komentari tentang tokoh ini, hanya saja aku ingin berkomentar; memang benar jika mahluk bernama perempuan itu empunya untuk urusan bepura-pura.

Secara keseluruhan novel ini begitu mencengangkan bagi kita yang hidup dalam masyrakat modern. Novel ini begitu menusuk tajam, menyentil dengan serius sekaligus lucu, tentang hidup manusia yang terkadang terasa sepi, dingin juga pongah  ditengah kegemerlapan panggung  dunia global.  suatu karya dengan penyajian perenungan mendalam tentang hidup , keterasingan dalam masyrakat kekinian. Tak khayal jika Dag Solstad disebut sebagai salah satu  penulis mazhur milik Norwegia saat ini.

 

8,5/10

Tuhan di kepala Goenawan Mohamad

“Kemudian syirik dimulai dengan sebuah analogi”

Goenawan Mohammad mengutip sajak Amir Hamzah “Aku manusia, Rindu rasa, Rindu rupa.” dalam salah satu essaynya yang terhimpun dalam judul buku Setelah Revolusi Tak ada lagi. ia selalu menulis dengan gaya khas Intelektual yang kaya makna, bernada, namun terasa menukik tajam sekaligus menghanyutkan. Mengajak kita membahas Sesuatu yang kadang luput bahkan kalut kita bicarakan. Dalam tulisan itu yang berjudul Pintu-Pintu menuju Tuhan ia seolah bertanya pada pembaca, Bagaimana kiranya menganggap Tuhan dengan benar ?

“Menganggap dengan benar ?” mungkin saya saja yang berlebihan menagkapnya. Goenawan memulainya dengan membahas Nurcholis Madjid berserta gagasanya yang inklusif tentang agama. ia memulai dengan diktum ‘Tuhan adalah Esa’, sesuatu yang lain dari pada kita. Sudah menjadi polemik pada kala itu, ketika Cak nur mengatakan jika,” Kita tidak akan sampai pada kebenaran mutlak itu, karena kita adalah nisbi”. Ada sebuah harapan sekaligus kekhawatiran dalam kalimat itu, mungkin itu juga yang ditangkap oleh Goenawan Mohammad. Tafsiran itu memang lahir dari pernyataan La illaha illa Allah dengan arti Tiada tuhan selain Allah, bisa kita tafsirkan sebagai tiada tuhan lain, selain Allah, namun juga menimbulkan pertanyaan “memang ada tuhan-tuhan lain selain Dia ?”. kita dapat membayangkangkan ada banyak tuhan di atas langit yang diam-diam saling berebut tunduknya manusia di bawah sana.

sebenarnya Goenawan mohammad tidak ingin memulai perdebatan teologis yang konon tidak akan ada habisnya. Saya percaya jika sejarah agama dimulai dengan beberapa pertanyaan semacam itu yang kadang pula membawa arus sejarah pada permusuhan dan pertumpahan darah dengan alasan yang sama,- sama-sama ingin membela tuhan. Kembali lagi, jika tuhan adalah hal lain dari pada kita, sejarah manusia kemudian menujukan bagaimana ‘Dia’ coba untuk direkam,direpresentasikan dalam hal yang mawujud yang sebenarnya malah mengubahnya dari Sang Maha seluruh menjadi sesuatu yang profan Ke-Maha Lain- nya memang sudah semestinya tidak dapat diringkas dalam bahasa, tak bisa disamakan oleh apapun di dunia.“Kemudian syirik dimulai dari sebuah analogi, Orang musyrik ialah orang yang membuat Yang Mahal Lain berakhir dalam kesamaan” begitulah Goenawan berpendapat.

Bagaimanapun, manusia berkehendak untuk berfikir. Pendapat sebelumnya kemudian dihadapkan pada kritik, “Lantas bagaimana Tuhan hadir dalam kesadaran manusia yang nisbi jika ia tidak hadir dalam bentuk yang dapat dijangkau oalah daya yang dimiliki manusia. Dilain sisi risalah tentag Tuhan terus dituliskan. Rasulpun, betapun ia butuh bahasa dan risalah untuk menjelaskan kepada umatnya tentang wahyu kebenaran

Agaknya manusia terus mencari, atas nama akal yang kadang membahayakan. Warisan kehendak tuhan kadangkala menjadi tipu daya, atas nama kemanusiaan membunuh dibiarkan, atas nama kemajuan alam diberangus habis-habisan.

Lupa ini Apa

Luka itu masih basah di kepala.
sempat kita bersusah payah mengalirkannya pada arus waktu.
namun kini kau kembali.
membawa ingatan yang lebih tajam dari sebelumnya.

Mata kita masih merekam, ikatan yang hilang dari pengaitnya.
mengurai kembali kembang yang pernah kita rangkai dari hari
dengan wajah yang berbeda
kau datang dengan aroma yang sama.
lalu, kitapun berangkat kembali
meski dengan luka, dan Trauma.
namun juga harapan.
Sungguh kita yang fana, sedang waktu abadi.
memungutnya hari demi hari, merangkainya seperti teka-teki
hingga pada suatu hari, kita lupa untuk apa memahami.